Sedikitnya ada 4 akibat jika ayah tidak mengambil tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik buah hatinya. Yakni:

1. Pendidikan Anak Tak Punya Visi

Pendidikan itu bukan semata-mata mekanisasi, tapi sebuah visi. Seorang ibu tidak bisa mendesain visi, karena ibu itu eksekutor yakni pihak yang terlibat dalam mengasuh dan mendidik anak. Sehebat apa pun seorang ibu menjadi eksekutor dalam mengasuh dan mendidik anak, ia akan kesulitan untuk merancang visi pengasuhan dan pendidikan anak. Bukan karena tak memiliki kemampuan, tapi karena situasinya kerap tidak memungkinkan.

Karenanya, ketika ayah tak hadir memberi visi, pendidikan anak hanya menjadi mekanisasi dan rutinitas saja. Tidak ada misi, visi, ataupun strategi. Memberikan misi, visi, dan strategi inilah tugas seorang ayah. Ayahlah yang berkewajiban memutuskan orientasi mau dibawa kemana, mau jadi apa, dan apa target dalam mendidik anak tersebut.

2. Ibu Tak Punya Tempat Curhat

Jika ayah lepas tangan dari kewajiban mengasuh dan mendidik anak, beban berat mengasuh dan mendidik itu sepenuhnya menjadi ditanggung istri. Jika istri suntuk dengan berbagai permasalahan anak dan keluarga lainnya, dia akan mengadu pada siapa? Karena mengasuh dan mendidik anak itu melelahkan dan  bikin suntuk.

Karenanya, seorang istri membutuhkan teman pendamping dalam mendidik anak. Apalagi saat istri suntuk dan masalah anak semakin banyak. Ayah dibutuhkan untuk membantu mencari solusi. Istri membutuhkan suami untuk membantu mengatasi setiap persoalan yang muncul dalam mendidik anak. Jangan harap istri bisa mengeluarkan ide-ide kratif dalam mengasuh dan mendidik anak-anak, karena  istri sudah jenuh dengan rutinitas. Di sinilah kehadiran figur ayah dibutuhkan  sebagai teman curhat yang ikut turun memberi solusi.

3. Anak Tak Punya Individualitas

Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, anak-anak yang tidak dekat dengan ayah berakibat tujuh kali lipat lebih mudah mengonsumsi narkoba daripada anak-anak yang dekat dengan ayahnya. Bukan hanya narkotika, anak-anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung memiliki masalah kenakalan yang berat, seperti tawuran sampai hamil di luar nikah.

Mengapa anak yang tumbuh tanpa didikan ayah ini lebih banyak menghadapi masalah? Penyebabnya karena anak tak punya individualitas. Anak yang tidak punya individualitas tidak memiliki ego. Dia tidak punya keberanian untuk berbeda. Dia tidak punya keberanian untuk menunjukkan. Ayahlah yang bisa mengajarkan individualitas.

Sedangkan ibu punya kecenderungan membangun sosiabilitas anak. Ibu akan mendidik anak agar mudah diterima masyarakat. Anak yang santun, ramah, anggun, tidak pernah berantem, dan kompak. Karenanya, jika ayah tidak ikut mendidik, anak mudah terbawa arus pergaulan yang buruk. Selain itu, ketika ayah absen dari pendidikan anak, lahirlah anak-anak yang kompromistis. Teman-temannya merokok, ikut merokok. Temannya mengganja, ikut juga. Teman ikut geng, dia ikut juga. Teman seks bebas, ikut juga. Anak tidak berani mengatakan ‘No, sorry! Teman sih teman, tapi bukan berarti saya harus selalu nurutin kamu.”

Karenanya, saat seorang anak terjebak dalam pergaulan negatif, yang salah pastilah ayahnya. Mengapa ayah tak mengajarkan individualitas? Mengapa ayah tidak mengajarkan untuk berkata tidak?”

4. Anak Terlambat Dewasa

Dalam membesarkan anak, salah satu tugas orang tua adalah menjadikan mereka akil baligh. Akil adalah dewasa secara pemikiran. Parameter akil di antaranya mandiri, mampu membuat keputusan sendiri, mampu mengambil tanggung jawab, dan mampu mencari nafkah sendiri. Sedangkan parameter baligh adalah sehat jasmani. Sehat ini ditunjukkan dengan mampu bereproduksi, dengan tanda mimpi basah pada laki-laki dan menstruasi pada perempuan.

Menjadikan anak baligh adalah tugas seorang ibu, sedangkan menjadikan anak akil menjadi tugas ayah. Dulu, anak mencapai fase akil berbarengan dengan fase baligh, yakni antara usia 12-15 tahun. Tapi kini anak baligh lebih cepat sedangkan akilnya sangat lambat. Menjadikan anak akil dibutuhkan ketegaran agar anak dewasa secara akil.

Seorang ibu tak akan tega membuat anak dewasa secara pemikiran dan perilaku. Akan sulit bagi seorang ibu untuk tega melihat anaknya yang baru 12 tahun harus mencari uang sendiri, atau harus mencuci baju sendiri. Ayahlah yang bisa mengesampingkan emosinya dan melihat anaknya berjuang susah payah. Dengan perjuangan dan kesulitan inilah anak akan tumbuh dewasa. Ketika ayah tidak turun tangan mendewasakan anak, maka akan lahir remaja, yakni generasi yang tidak bisa disebut anak-anak, tapi belum pantas dipanggil dewasa.

Dwi Hardianto