Assalamu’alaikum, Dokter Tony.

Dokter, saya mengalami masalah dengan tulang belakang sejak dua tahun lalu. Kalau bangkit dari duduk atau tidur, sakitnya luar biasa. Seperti ada tulang atau saraf yang terjepit. Seorang teman pada lebaran Idul Adha lalu menyarankan agar mengobatinya dengan cara chiropractic, karena saya takut dioperasi. Tapi ketika mengetahui ada pasien malapraktik di klinik chiropractic, saya jadi ragu dan semakin takut.

Pertanyaan saya, apa sebenarnya chiropractic itu? Dan berbahayakah pengobatan dengan cara-cara seperti—maaf—tukang pijat itu? Apa yang sebaiknya saya lakukan?

Terima kasih atas penjelasan Dokter Tony.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Lukito S. Wardono, Karawang

Wa’alaikumussalam, Pak Lukito yang dirahmati Allah.

Ya memang, saat ini chiropractic (yang diindonesiakan menjadi kiropraksi) sedang menjadi perbincangan yang ramai di masyarakat kita. Sayangnya imej yang beredar tentang chiropractic agak negatif, karena adanya kasus malapraktik di sebuah klinik chiropractic ternama di Jakarta. Tapi mungkin sebagian besar masyarakat belum tahu, apa itu chiropractic, meskipun praktik pengobatan tulang dengan cara ini cukup dikenal di dunia.

Saya berusaha menjelaskan agak lebih detail, apa sebenarnya chiropractic atau kiropraksi itu. Mudah-mudahan penjelasan ini dapat menjadi tambahan pengetahuan dan rujukan untuk Pak Lukito dan semua pembaca Oasesahira umumnya, sebelum saya menjawab kasus yang Bapak alami.

Secara etimologis, kata “chiropractic” berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, chiros yang artinya tangan, dan practikos yang artinya tindakan atau penangangan. Jadi, secara sederhana chiropractic berarti tindakan atau penanganan dengan menggunakan tangan.

Sebenarnya praktik kiropraksi sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan abad ke-5 Masehi masyarakat Mesiur dan Tiongkok sudah mengenal kiropraksi ini. Hanya saja karena berbagai alasan, terutama karena perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan secara umum, kiropraksi mulai dilupakan orang, dan baru dipopulerkan kembali oleh Daniel David Palmer, seorang guru dan pemilik toko bahan makanan, pada 1895 di Davenport, Iowa, Amerika Serikat, ketika dia berhasil menyembuhkan Harvey Lillard, petugas kebersihan yang pendengaran telah rusak. Palmer, yang imigran asal Kanada itu, sangat tertarik dengan pengobatan magnetic dan osteopathy. Pada tahun 1897, Palmer mendirikan Palmer School of Chiropractic di Davenport dan mulai mengajarkan teknik kiropraksi.

Kiropraksi meyakini adanya hubungan antara sistem saraf dengan semua sistem di dalam tubuh, terutama persendian dan otot di sekitar tulang belakang. Gerakan pada persendian sangat berpengaruh pada seluruh saraf dan struktur yang berhubungan dengan saraf itu, termasuk otot, organ tubuh, sistem kekebalan tubuh, dan sistem saraf keseluruhan. Dan itulah yang dilakukan oleh Palmer terhadap “pasien” pertamanya, Harvey Lillard.

Kita memang cukup terkejut dengan kejadian malapraktik di klinik kiropraksi terkenal di Jakarta, yang mengakibatkan kematian setelah suatu chiropractic treatment di bagian leher. Kita katakan malapraktik karena orang yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu tiba-tiba “menghilang” (untuk tidak menyebutnya melarikan diri).

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan penanganan kiropraksi, tapi pelakunya harus memiliki pengetahuan teknis dan kompetensi yang khusus. Di Amerika Serikat, praktik manipulasi leher ini sudah dilarang sejak tahun 1956. Banyak kalangan yang menganggap kiropraksi adalah terapi pelengkap untuk orang yang mengalami sakit sendi, nyeri punggung atau tulang belakang pada umumnya. Seperti osteopati, kiropraksi menggunakan metode pergeseran sendi. Namun, teknik yang digunakan sedikit berbeda. Osteopati bermanfaat untuk perbaikan sirkulasi darah, sedangkan kiropraksi lebih fokus memperbaiki fungsi saraf dan meredakan nyeri.

Sebagai terapi pelengkap, kiropraksi menitikberatkan pada prinsip bahwa tulang belakang merupakan pusat kesehatan. Kesalahan posisi ruas tulang belakang bisa menyebabkan rasa sakit dan kesulitan bergerak, serta mungkin akan berdampak pada bagian lain tubuh. Kiropraksi tidak sesuai untuk orang yang mengalami pergeseran bantalan tulang, patah tulang yang baru terjadi, pengeroposan tulang tingkat lanjut, radang sendi, infeksi dan kanker tulang punggung.

Pakar kiropraksi biasanya akan mencatat riwayat kesehatan pasien secara lengkap pada kunjungan pertama. Prosedur lainnya yang harus dilakukan sebelum memulai terapi adalah melakukan tes diagnosis serta meminta pasien menjalani rontgen. Bila perlu, ahli terapi juga melakukan gerakan sederhana untuk mempelajari lebih lanjut gangguan yang dialami pasien.

Ahli terapi baru akan mengangani pasien ketika masalah telah teridentifikasi. Dalam proses terapi, pakar akan menggunakan tekanan dengan gerakan memutar, pijatan dan penggeseran ruas tulang belakang. Tindakan tersebut membantu meratakan ruas-ruas tulang belakang dan memperbaiki kelenturan tulang belakang. Pada akhirnya terapi ini dapat mengurangi nyeri yang dirasakan.