Islam sangat memperhatikan tahapan dalam mendidik anak usia dini. Kurikulumnya sudah jelas. Setelah “Belajar Adab Sebelum Ilmu,” buah hati kita juga harus “Belajar iman sebelum al-Qur’an.” Generasi setelah tabi’in dinilai turun kualitasnya karena mereka belajar al-Qur’an sebelum iman. Bagaimana dengan kita hari ini? Umumnya, kita tidak belajar iman dan tidak belajar al-Qur’an, sehingga wajar jika Islam belum gemilang.

Iman Sebelum Al-Qur’an

“Jangan jadi besar sebelum salih,” tegas Ustadz Budi Ashari Lc saat menjadi pembicara dalam Training Class Parenting Nabawiyah dengan tema “Membangun Keshalihan Anak pada Tiap Tahapan Usia” yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Khairunnisa di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Ustadz alumni Universitas Madinah, Arab Saudi ini, mengingatkan orang tua Muslim untuk menjadikan anak-anaknya salih terlebih dahulu sebelum mengarahkannya untuk berprestasi secara akademik atau prestasi lainnya. Orang tua harus membenahi pola pikirnya untuk tidak menjadikan anak berprestasi secara akademis, khususnya dalam bidang ilmu-ilmu umum sejak usia dini. “Karena dalam pendidikan Islam, prestasi seperti itu memang belum waktunya,” tandasnya.

Ahli sejarah Islam ini menyebutkan, dalam masyarakat kita yang disebut modern jika menjadi spesialis, profesional dalam bidang tertentu, doktor, profesor dan status akademik lainnya. Tapi dalam Islam, pemahaman tentang individu yang modern sedikit berbeda. Sejarah kejayaan Islam menyebutkan, para ulama yang berprestasi tidak hanya ketika ia menguasai ilmu terapan, tapi juga menguasai al- Qur’an dan Sunnah.

“Memang benar, ketika Anda menjadi spesialis, profesional pada bidang tertentu, menjadi doktor, profesor atau gelar akademis lainnya, itu memang berprestasi. Tapi dalam Islam prestasi pada bidang itu saja belum lengkap. Ibnu Sina adalah seorang dokter profesional yang mengabdikan hidupnya pada dunia kedokteran di seantero kekhalifahan Islam sejak usia 17 tahun. Tapi ia sudah memiliki keimanan, adab dan akhlaknya mulia, hafal al-Qur’an 30 juz dan menguasai kandungannya jauh sebelum usia 17 tahun. Ada riwayat yang menyebutkan, Ibnu Sina sudah hafal al-Qur’an 30 juz dan memahami isinya sejak usia 10 tahun,” jelas ustadz berputra empat ini.

Karenanya, Islam sangat mengutamakan tahapan dalam mendidik anak-anak. Ibarat membuat kue, jika urutan memasukkan bahan-bahan saat membuat adonan terbolak-balik, maka kuenya tidak akan lezat. Atau, ibarat memakai sandal tertukar kanan dan kirinya, bisakah kita berlari kencang dengan sandal yang posisinya tertukar? Tidak bisa kan? Demikian juga dengan tahapan dalam mendidik anak-anak, tidak akan menjadi istimewa jika urutan dalam mendidiknya salah.

Anda penasaran … ??? Ingin mempelajari dan memahami tahapan pendidikan dalam Islam secara lengkap? Kemudian menerapkannya untuk mendidik buah hati Anda agar meraih sukses dunia dan akhirat? Baca selengkapnya hanya di Rubrik OASE Utama Edisi November 2017.

Ketika Belajar Al-Qur’an Iman Semakin Kuat

Dapatkan di:
Gramedia Seluruh Indonesia, Toko Buku Gunung Agung, Familly Mart, Book and Beyond, Books Kinokuniya, Paperclip dan gerai penjualan majalah terdekat.

Akses Online:
HIGO, https://company.higoapps.com/ Via APPLE, ANDROID, IPHONE, dan Tablet PC.

Berlangganan:
Kantor: 021-83784878 (Jam Kerja)
HP/WA: 0815-8746461 (Pak Jaelani)
FB: Majalah OASE
Twitter: @MajalahOase
Instagram: @majalahoasesahira
Website: www.oase.co.id