Untuk mendidik dan mengasuh anak-anak, para ayah bisa belajar dari cara Nabi Ibrahim AS yang diceritakan Allah SWT dari doa-doa panjangnya yang diabadikan dalam QS Ibrahim (14) ayat 37 – 41:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim 14: 37). “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.”  (QS Ibrahim 14: 38).

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (Memperkenankan) doa.”  (QS Ibrahim 14: 39). “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim 14: 40). “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat),”  (QS Ibrahim 14: 41).

Dari rangkaian ayat di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dalam mendidik anak-anak:

1. Mencari dan Membentuk Lingkungan Shalih

Bagi Nabi Ibrahim, representasi lingkungan yang shalih adalah Baitullah  (rumah Allah), karenanya Ibrahim menempatkan istri dan anak-anaknya di dekat Ka’bah (QS Ibrahim 14: 37). Kita, bisa merepresentasikannya dengan masjid. Pilihlah tempat tinggal yang dekat masjid, atau anak-anak diusahakan lebih sering ke masjid, mencintai masjid dan banyak beraktivitas di masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung pada masjid.

Pada praktiknya kita menemui kendala dari sisi keteladanan, padahal belajar yang paling mudah bagi anak-anak adalah mencontoh. Jika ayah berangkat kerja ba’da Subuh dan tak sempat ke masjid, pulang ke rumah ba’da Isya, praktis anak tak melihat keteladanan shalat di masjid  dari ayahnya. Kendala berikutnya adalah belum semua masjid ramah pada anak-anak. Umummya, pengurus masjid dan jamaah kurang suka melihat anak-anak karena khawatir terganggu kekhusu’annya. Umumnya, anak-anak tidak tertib selama di masjid. Karenanya, ayah harus berusaha seoptimal mungkin agar dirinya bisa menjadi teladan anak-anak dalam urusan shalat berjamaah di masjid.

2. Mendidik Anak untuk Mendirikan Shalat

Nabi Ibrahim secara khusus berdoa dan memohon pada Allah SWT agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat (QS Ibrahim 14: 40). Sementara pada QS Ibrahim 14: 37 juga terselip doa Ibrahim istri dan anak keturunannya bisa mendirikan shalat dengan menempatkan mereka di Baitullah. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad SAW dengan umat lain.

Shalat juga merupakan kewajiban yang paling utama, mengingat Rasulullah SAW memberikan arahan pada umatnya tentang keharusan mempelajari shalat bagi anak-anak ketika memasuki usia 7 tahun: “Suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun.” Bahkan Nabi SAW membolehkan memukul anak (dengan tidak bermaksud menyakitinya) pada usia 10 tahun jika tidak menunaikan shalat. Artinya, ada masa 3 tahun, bagi orangtua untuk mendidik anak-anaknya menunaikan shalat, waktu yang cukup untuk proses pendidikan.

3. Mendidik Anak Agar Mampu Menjemput Rezki Allah 

Nabi Ibrahim memberinya bekal keterampilan hidup (life skill)  dan keterampilan untuk hidup (skill to life)  pada anak-anaknya agar mereka mampu berdiri secara mandiri dalam menjalani kehidupannya kelak. Selain itu, Nabi Ibrahim juga mengajarkan anak-anaknya untuk bersyukur atas semua nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT pada kita (QS Ibrahim 14: 37).

4. Mendidik Anak dengan Mempertebal Keimanan Agar Merasakan Kebersamaan dan Pengawasan Allah SWT 

Dalam hal ini Nabi Ibrahim berdoa secara khusus pada Allah SWT agar ia dan keluarganya benar-benar bisa merasakan kehadiran, kebersamaan dan pengawasan Rabb Yang Maha Perkasa. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.”  (QS Ibrahim 14: 38).

5. Mendidik Anak Bersosialisasi dan Bergaul dengan Banyak Kalangan

Ini sesuai dengan QS Ibrahim 14: 37. Rasulullah SAW bersabda: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR Bukhari). Agar anak-anak memiliki akhlak yang baik, sering-seringlah menceritakan tentang Rasulullah SAW agar muncul kebanggaan dan kekaguman pada nabinya, yang pada gilirannya akan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan. Jika anak-anak meneladani Rasulullah SAW berarti mereka memiliki akhlaq yang baik, karena Nabi SAW juga berakhlak mulia. “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berakhlaq yang agung.”  (QS al-Qalam 68: 4).

6. Mendidik Anak untuk Menghormati dan Mendoakan Orangtua 

Selain itu, juga mendidik anak agar peduli, memperhatikan dan mendoakan kerabat serta orang lain yang berjasa. Termasuk mendoakan sesama orang-orang beriman baik yang masih hidup maupun yang telah mendahuluinya. “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat),”  (QS Ibrahim 14: 41).

Dwi Hardianto