Mendidik Anak di Era Modern

0
Posted 5 Mei 2012 by dwi hardianto in Utama

Membentuk karakter mulia anak pada era modern tak semudah memberi nasihat, tak semudah memberi instruksi. Tapi, memerlukan kesabaran, pembiasan, pengulangan dan konsistensi. Karena ilmu harus diperoleh dengan belajar, sedangkan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun.

Pagi itu, Mutia Ramdhini (8 tahun) begitu ceria saat meninggalkan rumah menuju sekolahnya yang baru. Sepekan hingga dua pekan, Mutia masih ceria tiap kali berangkat maupun pulang sekolah. Tapi menginjak pekan ketiga, Mutia malas bangun pagi. Jika pun bangun uring-uringan dan marah-marah dengan alasan tidak jelas. Orangtuanya bertambah kaget ketika pada pekan keempat, Mutia tiba-tiba muntah-muntah tiap kali akan berangkat sekolah. Ia seperti mengalami shock berat di sekolah. Awalnya, saya tak mengetahui apa penyebabnya,” kata Pigoselpi Anas, Ibunda Mutia.

Setelah diusut, Lanjutnya, penyebab muntahnya karena beban pelajaran yang ditanggung Mutia terlalu berat, termasuk siswa lainnya. Setiap hari ia pulang sekolah sekitar jam 16.00-17.00 wib. Beban Mutia kian bertambah dengan PR setiap hari.  Rupanya, Mutia dan teman-temannya hampir tiap hari belajar dalam kondisi tertekan di sekolah karena beban kurikulum yang sangat berat. Tak sedikit, teman-teman Mutia yang ternyata bersikap kasar dan meledak-ledak.

Khawatir jiwa putrinya rusak, Pigoselpi lantas memindahkan ke sekolah lain di kota yang sama dan telah menerapkan pendidikan karakter pada siswanya. Di sekolah itu, Mutia merasa lebih senang, enjoy, dan bahagia. “ia bisa belajar sambil bermain bersama teman-temannya atau mengekspresikan hobinya melalui beragam pilihan metode pendidikan yang diterapkan sekolah itu,”tuturnya.

Ratna Megawangi PhD yang merintis Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) pada Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia) menilai, apa yang menimpa Mutia bukan merupakan kejadian satu dua kasus. Menurutnya, apa yang menimpa Mutia cukup banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan putra pertama Ratna, Muhammad Rumi, pada usia delapan tahun juga mengalami kasus serupa.

“Anak-anak bisa mengalami shock ketiak menghadapi tekanan besar karena beban pelajaran yang padat dan terlalu banyak. Anak saya juga sempat mengalaminya, padahal baru dua minggu belajar di sebuah sekolah unggulan di Jakarta Timur. Setelah pulang dari Amerika Serikat, kami memasukkan Rumi ke sekolah itu. Ternyata, Rumi langsung terserang sakit Psikosomatik, “kata Ratna.
 Anda bisa membaca artikel lengkap di atas di Majalah Oase No 01/TH/2 Februari 2012, hal 30-39

About the Author

dwi hardianto

Redaktur Eksekutif Majalah OASE

0 Comments



Be the first to comment!


Leave a Response

(required)

* Copy this password:

* Type or paste password here: