Wanita umumnya selalu memusingkan antara penghasilan keluarga dengan family time yang dialokasikan sang suami. Untuk menjawab ini, Jeff Feldhahn, suami dari Shaunti Feldhahn melakukan survei terhadap ratusan istri dengan tujuan memahami keinginan wanita yang sebenarnya.

Selama ini, suami memahami jika “wanita membutuhkan kenyamanan dalam bentuk keamanan finansial.” Betulkah? Untuk menjawabnya, Jeff Feldhahn mengajukan pertanyaan pada ratusan wanita yang sudah menikah: “Jika kamu harus memilih di antara dua keadaan buruk ini, kamu lebih memilih yang mana? (pilih salah satu saja):

  1. Kekurangan dari segi finansial.
  2. Merasa tak aman (insecure) karena tidak dekat dengan suami.

Hasilnya, 7 dari  10 wanita memilih jawaban No 1. Para istri menyatakan tidak mengapa uang yang diberikan suami berkurang, asal suami memiliki lebih banyak waktu berinteraksi dengan istri dan anak-anak di rumah.

Artinya, riset ini menunjukkan istri justru lebih banyak membutuhkan kenyamanan emosional dan keakraban dengan suami. Bahkan, istri bersedia berkorban merasa tak aman (insecure) secara finansial agar bisa lebih dekat dengan suaminya.

Hasil survei di atas, sesuai dengan kewajiban utama seorang ayah. Menurut ustadz Adriano Rusfi, selain mencari nafkah, ada 3 kewajiban lain yang harus ditunaikan seorang ayah. Bahkan, mencari nafkah sebenarnya masuk pada prioritas terakhir. “Kewajiban ayah nomor satu bukan mencari nafkah. Kewajiban seorang ayah, sesuai urutannya adalah mendidik istri, mendidik anak, mengelola rumah tangga, baru yang terakhir mencari nafkah,” tandasnya.

Sesuai urutan kewajiban seorang ayah di atas, maka kewajiban mendidik istri, mendidik anak dan mengelola rumah tangga, berhubungan erat dengan keinginan istri yang sebenarnya yang disurvei oleh Jeff Feldhahn. Yakni, suami yang lebih banyak waktu berinteraksi dengan istri dan anak-anak di rumah.

Tapi jangan lupa, Islam juga mengajarkan, nafkah seorang suami pada keluarganya adalah penopang kepemimpinan seorang laki-laki sesuai firman Allah SWT. Allah melebihkan laki-laki karena menafkahkan sebagian hartanya untuk keluarga. Mencari dan menafkahkan harta inilah yang merupakan proses kepemimpinan suami di keluarganya.

“Tanpa memiliki nafkah, kepemimpinan suami tidak akan ada artinya di mata istri dan anak-anak. Karena itu, suami yang sukses adalah suami yang mampu menunaikan empat kewajiban ini secara baik dan proporsional,” jelas Ustadz Adriano Rusfi.

Allah SWT berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”  (QS an-Nisaa’ 4: 34).

Dwi Hardianto