Dua puluh tahun ia memusuhi dan memerangi Nabi SAW serta kaum Muslimin. Tapi ketika cahaya hidayah menerangi jiwanya, hidupnya berubah total hanya untuk Islam. Bahkan, keyakinan, usaha dan doanya mengantarkan putranya menjadi pemimpin umat yang dicintai rakyat dan disegani musuh.

“Ustadz …, saya mah begini saja sudah bersyukur. Bukan lulusan pesantren, baca al-Qur’an saja nggak lancar. Yang penting anak-anak bisa shalat dan ngaji, udah cukup.”

“Ustadz …, saya bukan ibu shalihah, pakai jilbab saja baru setahun ini. Nggak bisalah memaksa anak jadi salih dan salihah.”

“Ustadz …, saya masih banyak melakukan maksiat. Ibadah kadang-kadang juga lupa. Nggak berani mimpi punya anak yang bisa menjadi orang hebat, apalagi memimpin umat.”

Bunda pernah mendengar perkataan seperti di atas, bukan? Ungkapan rendah diri, seolah-olah tanpa daya. Orangtua yang merasa dirinya tidak sempurna, banyak melakukan maksiat, berbuat dosa, kurang ibadah, kurang ilmu, lalu pasrah menghadapi keadaan. Masa lalunya yang berkubang maksiat dianggapnya tetap menutupi cahaya harapan. Padahal, dengan izin  Allah SWT melalui usaha maksimal dan doa yang ikhlas, kita bisa meraih cahaya Allah. Demikian juga dengan generasi yang lahir dari rahim Anda, bisa juga akan jauh lebih baik dari kita.

Jika bercita-cita, tak jauh dari hal-hal yang berstandar dunia. Bahkan, banyak orangtua yang berjuang sekuat tenaga, kalau perlu memaksa agar anak-anak memiliki profesi yang menghasilkan banyak uang, dokter, pilot, arsitek, pebisnis, artis, dan lainnya, padahal anak tak menyukai bidang itu. Harapannya, kelak memiliki rumah besar, mobil mewah, penghasilan besar, investasi dan tabungan di mana-mana, bisa jalan-jalan keliling dunia. Lantas, di mana posisi akhirat diletakkan? Mengapa anak-anak tidak diarahkan agar memiliki akhlak dan adab mulia, mencintai ilmu, menjadi cendekiawan, ulama, atau pemimpin umat?

Karena itu, mari kita merenung sejenak. Belajar dari sosok perempuan yang Allah SWT pilih memeluk Islam tidak sejak awal kedatangannya. Padahal, sejak awal kenabian Muhammad SAW ia sangat mengenal sosok Rasul SAW dan mengetahui ajaran yang dibawanya. Bahkan, yang terjadi justru sebaliknya. Selama lebih dari 20 tahun ia memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

Akhirnya, cahaya hidayah itu pun menerangi jiwanya, membasuh qalbunya yang berlumur dosa. Meski ia banyak tertinggal, tapi tidak mengurangi kemuliaannya. Ia menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat pujian: “Yang terbaik di antara kalian pada masa jahiliyah pantas menjadi yang terbaik di antara kalian pada masa Islam.”

Ia perempuan cerdas. Sangat fasih dalam bahasa. Pujangga yang cerdik. Keberaniannya mengalahkan sebagian pria. Kepercayaan dirinya tinggi. Tekadnya sangat kuat. Pandangannya tajam. Ia membayar dendam kesumat dengan cinta penuh pengorbanan. Ia menukar kelam kejahiliyahannya dengan Islam yang terang benderang.

Adz Dzahabi menilai sosok ini dalam “Taarikhul Islam” yang dikutip oleh Al-Mishri dalam “35 Shirah Shahabiyah” (2014: 333) menyebutkan, ia termasuk wanita Quraisy yang paling cantik dan cerdas. Siapa dia? Ia adalah Hindun binti ‘Utbah.

Siapa? Hindun …? Kok bisa wanita yang memusuhi Nabi SAW dan Kaum Muslimin selama 20 tahun, bahkan memutilasi jazad Hamzah yang sudah gugur pada Perang Uhud, bisa menjadi contoh dan teladan kita, khususnya para Muslimah? Baiklah, agar Anda memperoleh penjelasan yang lengkap dan utuh, sebaiknya membaca ulasan tentang ini selengkapnya di Majalah OASESAHIRA edisi Desember 2017 Rubrik Oase Utama.

Ibu Visioner, Si Kecil Sukses

Dapatkan Di:
Gramedia Seluruh Indonesia, Gunung Agung, Book and Beyond, Familly Mart, Books Kinokuniya, Paperclip dan gerai penjualan majalah terdekat.

Akses Online:
HIGO, https://company.higoapps.com/ Via APPLE, ANDROID, IPHONE, dan Tablet PC.

Berlangganan:
Kantor: 021-83784878 (Jam Kerja)
HP/WA: 0815-8746 461 (Pak Djaelani)
FB: Majalah OASE
Twitter: @MajalahOase
Instagram: @majalahoasesahira
Website: www.oase.co.id