Indonesia Fashion Chamber (IFC) menggelar “Media Viewing Trend” di Lotte Shopping Avenue Jakarta, akhir Maret 2018 lalu. Acara ini dimeriahkan dengan karya terbaru dari beberapa kategori, seperti Avant Garde, Urban, Muslim dan Evening Wear Event yang digelar dengan konsep pertunjukan theatrical sesuai tema busana yang dipresentasikan itu.

Media Viewing Trend ini bertujuan untuk memperlihatkan kondisi industri fashion Indonesia melalui karya para desainer. “Jadi bisa menjadi tolak ukur kemajuan fashion Indonesia,” ujar National Chairman Indonesia Fashion Chamber, Ali Charisma.

Acara yang berlangsung dua hari ini, pada hari pertama menampilkan koleksi busana Urban dan Avant Garde dari NY by Novita Yunus, Raegitazoro, Jumpanona by Rilya Krisnawati, Malea by Mega MA, dan Dina Midiani yang berkolaborasi dengan Threadapeutic.

Hari kedua, menampilkan koleksi busana Muslim dan Evening Wear dari desainer Irna Mutiara, Sad Indah, Christine Wibowo, DVK by Defika Hanum, Bramanta Wijaya, Dani Paraswati, Fomalhaut Zamel, Saffana, dan Devy Ross.

Tak hanya pamer koleksi, para desainer juga menjelaskan mengenai konsep rancangan yang meliputi inspirasi tema, konsep desain, produksi hingga pemasaran. Melalui interpretasi ide yang diaplikasikan para desainer, diharapkan bisa memberikan gambaran tentang tren fashion di masa yang akan datang.

“Tak hanya itu, dengan mengeksplorasi kekayaan heritage Indonesia melalui kain tradisional, para desainer IFC juga diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal dengan cita rasa internasional,” kata Ali, desainer asal Pulau Dewata yang juga salah satu pendiri IFC.

IFC adalah organisasi nirlaba yang keanggotaannya terdiri dari pengusaha mode, perancang busana dan pegiat fashion pria dan wanita, perhiasan dan aksesoris. Saat ini, keanggotaan IFC sudah menyebar di 11 kota besar di seluruh Indonesia.

Reporter & Foto: Olink KP