Kita sering mendengar perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW agar berbuat baik dan tidak durhaka kepada orangtua (birulwalidain). Berbagai saluran dakwah, di masjid, majelis taklim, pengajian RT, pengajian kantor, dakwah di media massa dan media sosial, sudah sering membahas tema ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mendengar ucapan bernada ancaman kepada anaknya. “Anakku, mana baktimu? Anak tak tahu diri, kerjaannya membantah orangtua. Boro-boro meringankan, tiap hari malah merongrong orangtua, kapan kamu bisa mandiri, Nak. Jika begitu, nanti kamu durhaka pada orangtua?” dan ancaman lainnya.
Ucapan seperti di atas secara tak langsung telah membangun pemahaman yang tak berimbang dalam hubungan antara orangtua dengan anak. Orangtua terkesan menuntut untuk dihormati, diperlakukan baik, dimuliakan dan seterusnya. Jika tidak dipenuhi, kesalahan menjadi beban anak-anak. Anak dicap tidak tahu diri, tidak tahu balas budi, hingga dicap sebagai anak durhaka.

Memang benar, berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban (fardu ‘ain) bagi anak, sehingga durhaka kepada orangtua merupakan salah satu dosa besar. Tapi memahami ajaran Islam jangan setengah-setengah. Jangan lupa, ajaran Islam tidak hanya melihat satu sisi saja, lalu melupakan sisi yang lain. Islam juga mewajibkan orangtua untuk berbuat baik kepada anak-anaknya. Orangtua yang menelantarkan anak-anak juga masuk dalam katagori dosa besar.

Inilah yang disebut hak dan kewajiban orangtua terhadap anak dan sebaliknya hak dan kewajiban anak terhadap orangtua. Konteks yang kita bahas ini berkaitan dengan hak anak terhadap orangtuanya. Atau, ungkapan lain menyebutkan, apa saja kewajiban orangtua kepada anaknya? Sehingga, jika kewajiban ini diabaikan maka orangtua bisa masuk dalam kategori orangtua durhaka kepada anak karena melalaikan kewajibannya sebagai orangtua.

Dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW tenang kewajiban berbuat baik kepada orangtua sudah sering kita dengar. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman, “Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…” (QS al-Ahqaf 15).

Allah SWT juga berfirman: “Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan hanya kepada-Nya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapak…” (QS al-Isra’ 23).

Rasulullah SAW juga bersabda seperti diriwayatkan Abu Hurairah ra, ia berkata, seorang pria datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik, ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi SAW menjawab, “ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi SAW menjawab, “ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Nabi SAW menjawab, “Ayahmu”. (HR Bukhari dan Muslim).  Bersambung.