Kewajiban Orangtua

Pada sisi satunya, Allah ta’ala juga mewajibkan orangtua untuk berbuat baik kepada anak-anaknya. Di antara kewajiban orangtua kepada anaknya adalah mendidik, mengajarkan al-Quran, memerintahkan shalat, memberikan nama yang baik, berlaku adil, memberi nafkah yang layak, mencarikan calon isteri yang shalihah atau calon suami yang shalih, mengajarkan perilaku yang baik, memerintahkan putrinya menutup aurat, memelihara keluarganya dari segala hal yang bisa menggiring mereka ke pintu nereka, dan kewajiban lainnya.

Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS at-Tahrim 6).

Memelihara diri sendiri dan keluarga (istri dan anak-anaknya) merupakan kewajiban orangtua, khususnya suami. Dan, masih banyak lagi kewajiban orangtua kepada anak-anaknya. Jika orangtua melalaikan dari kewajiban-kewajiban tersebut maka ia bisa termasuk orangtua yang durhaka kepada anaknya.

Pada era Kekhalifahaan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, seseorang datang kepada Umar untuk mengadukan perilaku anaknya. Di hadapan khalifah, orang itu berkata, “Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku, wahai Khaifah.”

Kemudian, Umar berkata kepada anak yang duduk di samping ayahnya ini. “Apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orangtua.”
“Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?” kata sang anak spontan.
“Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan al-Quran,” jawab Umar.
“Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan ia juga tidak mengajarkan al-Quran kepadku kecuali satu ayat saja.” Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. (al-Qamus al-Muhith, hal 977).
Umar pun langsung menoleh ke arah sang ayah sambil berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu, tapi engkau sendiri telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Enyahlah dari hadapanku.” (as-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130).

Tak heran, pada rentang waktu dan zaman yang berbeda, Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Siapa yang mengabaikan pendidikan yang bermanfaat untuk anak-anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan tindakan terburuk terhadap anaknya. Kerusakan anak-anak umumnya bersumber dari orangtua yang membiarkan mereka tanpa pendidikan berkualitas, tidak mengajarkan kewajiban agama dan sunnah at-Diin ini kepada buah hatinya. Orangtua abai terhadap masalah agama saat anak-anak masih kecil, sehingga ketika dewasa sulit meraih manfaat dari agama, bahkan tidak bisa memberikan manfaat apapun kepada orangtuanya.” (Tuhfatul Maudud, I: 229).

Inilah salah satu buah dari kedurhakaan orangtua kepada anak. Karena itu, wahai Ayah dan Bunda, jangan mudah mengeluarkan kata-kata bernada ancaman apalagi celaan yang bersumber dari legalitas ajaran Islam. Karena ternyata ada banyak hak anak atas orangtuanya. Jika sisi ini diabaikan, lalu anak menjadi bandel, menyimpang dan keras kepala, ada kemungkinan karena orangtua tidak memperhatikan sisi yang menjadi kewajaiban orangtua kepada anak.
(Bersambung).