Penyebab Orangtua Durhaka

Setidaknya ada empat perilaku yang sering dilakukan orangtua terhadap anak-anaknya yang bisa menyebabkan kedurhakaan orangtua terhadap anak. Di antaranya:

1.Memaki dan Menghina Anak

Orangtua dikatakan menghina anaknya ketika orangtua menilai kekurangan anak dan memaparkan setiap kebodohannya di hadapan teman-temannya. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada anaknya dengan nama buruk, seperti riwayat antara seorang ayah dengan Khalifah Umar bin Khaththab di atas. Rasulullah SAW juga menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits No 4297).

Karena itu, Rasulullah SAW sering mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan seseorang yang buruk dengan julukan yang baik. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk).
Bahkan, Rasulullah SAW memanggil istrinya, Aisyah dengan nama kecilnya, Aisy, untuk memberi kesan lembut dan sayang. Jadi, merupakan bentuk kejahatan jika kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk dan menghinakan dirinya.

2. Pilih Kasih dalam Mengasuh Anak

Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orangtua kepada anaknya. Sikap ini bias menjadi salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi antara anak dengan orangtuanya. Bahkan, bisa menjadi pangkal permusuhan antar saudara kandung sejak usia anak-anak hingga sama-sama dewasa kelak. Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku–’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu, sehinggi ia menemui Rasulullah SAW.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah SAW sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah SAW berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu,” (HR Muslim dalam Kitab al-Hibaat, hadits No. 3055).

Puncak kezaliman orangtua kepada anak adalah ketika orangtua tidak bisa memberikan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang tidak/kurang cantik, kurang pandai, cacat, atau mengalami keterbelakangan mental. Padahal, semua yang menimpa anak itu bukanlah kemauan si anak. Tidak pintar dan mengalami keterbelakangan mental juga bukan sebuah dosa atau kejahatan. Justru setiap keterbatasan pada anak seharusnya menjadi pemicu orangtua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah SAW bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orangtua yang membantu anaknya di atas kebaikan,” (HR Ibnu Hibban).

3. Mendoakan Keburukan Pada Anak

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orangtua atas anaknya,” (HR Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits No. 1828). Entah apa alasan yang membuat orangtua bisa saja menjadi sangat membenci anaknya. Saking bencinya, orangtua bisa saja sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, orangtua seperti ini adalah orangtua yang paling bodoh. Soalnya, setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa dikabulkan Allah SWT menjadi hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali itu.

Coba simak kisah berikut: Seorang ibu pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak karena sang putra selalu berperilaku buruk di hadapan ibundanya. Abdullah bertanya kepada sang ibu itu, “Apakah engkau pernah berdoa yang buruk atas anak itu kepada Allah SWT.” Ibu itu menjawab, “Ya, betul.” Abdullah bin Mubarak pun berkata, “Wahai ibu, engkau telah merusak darah dagingmu sendiri.” Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak. Bukannya berusaha nmemperbaiki malah menambah kerusakan pada diri anak yang bersangkutan.

4. Tidak Mendidik Anak

`Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal mati orangtuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya, anak yatim adalah anak yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.” Jadi, perhatian dan curahan kasih sayang kepada anak merupakan kuncinya. Bentuk perhatian dan kasih sayang tertinggi orangtua kepada buah hatinya adalah memberikan pendidikan yang baik. Karenanya, tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal pada anak-anak merupakan bentuk kejahatan orangtua. Segala kejahatan pasti berbuah ancaman buruk bagi pelakunya.

Perintah Allah SWT untuk mendidik anak merupakan bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya, khususnya pendidikan agama dan keterampilan agar bisa mandiri dalam menjalani kehidupan di dunia kelak. Intinya, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan anak-anak hidup bahagia di dunia dan akhirat. Perintah ini diturunkan Allah SAW secara umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS at-Tahrim 6). Juga merupakan bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anak-anaknya cara shalat dan membaca al-Qur’an. Meskipun kesibukan itu dalam rangka mencari rezeki untuk menafkahi anak-anaknya sekalipun.

Orangtua seperti ini telah melanggar perintah Allah seperti firman berikut ini: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa,” (QS Thaha 132).
Terkait hal ini, Rasulullah SAW juga bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun,” (HR Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits No. 372).

Ketahuilah bahwa tidak ada pemberian yang baik dari orangtua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang terbaik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkanya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orangtua kepada anaknya melebihi adab (pendidikan perilaku) yang baik,” (HR Tirmidzi dalam Kitab Birr Wash Shilah, hadits No 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal”).

Wahai Ayah dan Bunda, semoga kita semua tidak termasuk dalam golongan orangtua durhaka yang melakukan berbagai kejahatan kepada buah hati kita. Amin ya Rabbal’alamin. (Dwi Hardianto).