Bakat dan kreativitas remaja di negeri kita sekarang tidak bisa dianggap enteng. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil mengukir prestasi di pentas dunia melalui olah suara, olimpiade matematika, kimia dan fisika, tilawah al-Qur’an serta melalui panggung-panggung mode dunia. Risa Maharani, Nafida Royyana, Rania, dan Nia Faradiska, adalah empat siswi SMK NU Banat, Kudus yang terpilih melalui proses seleksi untuk menampilkan desain busana terbaiknya di pagelaran busana Internasional, CentreStage-Asia’s Premiere Fashion, 7-10 September di Hong Kong.

CentreStage sendiri diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) yang berpengalaman selama 50 tahun dalam mengorganisasi eksibisi, konferensi maupun program terkait fashion tingkat internasional. Ajang ini diikuti oleh 200 exhibitor dari 20 negara, 30 fashion show dari beragam brand internasional, dan mengundang buyer dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Korea, China, Taiwan, Jepang, India, Australia, Saudia Arabia, Amerika, dan negera-negara Eropa.

Selama 4 bulan, 4 siswi SMK NU Banat Kudus ini, dimentori oleh para desainer profesional dari IFC untuk mempersiapkan proyek mereka. Mulai dari pengembangan konsep, pendalaman inspirasi, menghubungkan produk dengan tema tren internasional, arahan penentuan harga, hingga branding dan pemasaran.

Program Pendampingan yang dilakukan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan Ditali Cipta Kreatif bekerja sama dengan Bakti Pendidikan Djarum Foundation melalui Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan ini merupakan program pendampingan intensif berkonsep inkubasi kepada Jurusan Tata Busana SMK NU Banat, Kudus, untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai kebutuhan industri mode saat ini.

“Kami memilih SMK NU Banat selain para muridnya telah dibekali dengan kurikulum yang cukup maju, teknologi yang digunakan pun sudah cukup memumpuni mereka ketika memproduksi busana. Kami juga mendampingi 4 siswa yang terpilih dari sekolah tersebut untuk memasarkan rancangan mereka dengan brand Zelmira,” ujar Ali Charisma, National Chairman Indonesia Fashion Chamber dalam konferensi pers “Membawa Karya SMK ke Panggung Dunia”, di Artotel, Jakarta Pusat, Kamis (1/9).

Karya 4 remaja ini dikemas dengan tema “Revive”, brand Zelmira yang mengusung gaya urban modest wear dipadu dengan kain batik serta bordir yang terinspirasi dari Menara Kudus. Revive sendiri mengandung harapan untuk menghidupkan kembali kekayaan budaya lokal Kudus yang tercermin dari bangunan tersebut.

“Potensi industri kreatif di Indonesia sangatlah besar. Unsur budaya yang beragam memberikan kekuatan tersendiri pada industri mode tanah air, salah satunya melalui kekayaan corak kain Nusantara. Hal ini tentu dapat menjadi karakter tersendiri jika disejajarkan dengan produk mode dari mancanegara lainnya. Adat ketimuran yang dianut oleh Bangsa Indonesia juga memberikan potensi besar dalam mengembangkan industri busana sopan atau lebih dikenal dengan istilah modest wear. Dan industri ini tengah diincar banyak pelaku mode internasional,” kata Ali.