Belajar Adab Sebelum Ilmu

Ibnul Mubarok menegaskan, sebelum mempelajari sebagian besar cabang ilmu dalam Islam, kami mempelajari adab terlebih dulu selama 30 tahun. Sedangkan mempelajari sebagian besar
cabang ilmu Islam diselesaikan selama 20 tahun.

Saat ini, banyak di antara kita yang sudah mapan ilmunya, khususnya ilmu agama (Ilmu Diin), banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits di kampus ternama di dalam dan luar negeri termasuk di Timur Tengah, tapi perilaku dan sikapnya terhadap orang tua, kerabat, tetangga, saudara Muslim lainnya, bahkan kepada guru jauh dari yang dituntunkan oleh ulama salaf. Hal ini tidak hanya menimpa anak-anak usia sekolah, tapi juga orang dewasa.

Apalagi jika kita tarik lebih jauh, misalnya sikap dan perilaku sebagian kita terhadap orang yang berbeda pemahaman. Padahal, perbedaan itu masih dalam tataran ijtihadiyah (wacana pemikiran) dan khilafiyah furu’iyah (perbedaan cabang-cabang) bukan khilafiyah ushuliyah (perbedaan atau masalah pokok) dalam ajaran Islam. Tapi yang nampak adalah watak keras, tak mau kompromi, menganggap pendapatnya yang paling benar, pendapat orang lain salah. Ujung-ujungnya menyesatkan dan meng-hizbikan orang lain.

Padahal, jika kita bersedia mempelajari adab luhur dan akhlak mulia para ulama, kita akan menemukan lautan mutiara peradaban agung di dalamnya, termasuk dalam hal menyikai perbedaan pendapat. Salah satunya seperti yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i ra kepada Yunus Ash Shadafiy yang memiliki nama kunyah Abu Musa. Imam Syafi’i berkata, “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).

Mengapa adab dan akhlak luhur seperti ini sekarang menjadi barang langka di tengah-tengah umat? Salah satu sebabnya karena kita lupa mempelajari adab dan akhlak sebelum mempelajari ilmu. Kita terlalu banyak menggeluti ilmu agama (Ilmu Diin) tapi lupa mempelajari adab dan akhlak. Padahal, jauh-jauh hari para ulama sudah mengingatkan kita agar tidak meninggalkan mempelajari adab dan akhlak.

Pertanyaannya, mengapa kita cenderung lupa mempelajari adab dan akhlak? Atau, karena kita ingin cepat menguasai ilmu yang lebih tinggi sehingga mengabaikan pelajaran adab dan akhlak? Atau, karena niat kita dalam belajar agama memang sudah berbeda, hanya untuk mendebat dan menjatuhkan orang lain? Atah, ada motif-motif lain yang semuanya bermuara kepada kepentingan dunia? Untuk mengetahui jawabannya, silakan membaca ulasan lengkapnya hanya di Rubrik OASE UTAMA edisi Agustus 2017.

Belajar Adab 30 Tahun dan Ilmu 20 Tahun

Dapatkan di:
Gramedia Seluruh Indonesia, http://www.gramedia.com/
Gunung Agung, http://www.tokogunungagung.com/beta/
Book and Beyond-Toko Buku Online, http://www.booksbeyond.co.id/
Familly Mart, http://www.familymartindonesia.com/
Books Kinokuniya-Toko Buku Online, https://www.kinokuniya.com/
Paperclip Toko Online, http://www.paperclip.co.id/index.od
dan gerai penjualan majalah terdekat.

Akses Online:
HIGO, https://company.higoapps.com/
Via APPLE, ANDROID, IPHONE, dan Tablet PC.

Berlangganan:
Kantor: 021-83784878 (Jam Kerja)
FB: Majalah OASE
Twitter: @MajalahOase
Instagram: @majalahoasesahira
Website: www.oase.co.id