Sore itu seluruh siswa dan siswi kelas II SDIT At Taufiq, Bogor, tampak bersemangat datang bersama ayah ke sekolah. Dengan wajah ceria, anak-anak itu menarik tangan ayah mereka untuk memasuki gerbang sambil membawa gembolan tas ransel di pundaknya. “Ini kelasku, Yah!” ujar seorang siswa kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum sambil melepas pandangan ke seluruh ruangan kelas.        Para siswa dan ayah diundang ke sekolah dalam rangka acara “Bermalam Bersama Ayah (BBA)” yang rutin diadakan setiap tahun. Tahun ini acara BBA mengusung tema, “My Dad is My Hero.”

Kegiatan yang digelar sehari semalam ini memang dirancang khusus untuk para ayah dan putera/puteri mereka. Sekolah mengajak para ayah meluangkan waktu mereka untuk sejenak terlibat dalam aneka kegiatan. Jika para ayah selama ini hanya disibukkan dengan pekerjaan di kantor sehingga jarang memiliki waktu berkualitas bersama anak-anak, dengan adanya acara “Bermalam Bersama Ayah” ini diharapkan dapat meningkatkan keakraban antara ayah dan anaknya.

Sebenarnya, melalui kegiatan semacam ini, sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan karakter-karakter positif dalam diri siswa, seperti :

  1. Siswa menunjukkan bahwa ia memiliki kompetensi dalam mengambil keputusan yang tepat, mampu menyelesaikan konflik sosial, dan memiliki kompetensi prestasi yang tinggi.
  2. Menunjukkan bahwa dirinya mampu memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri dan kreatif dalam memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri.
  3. Menunjukkan kemampuan membina hubungan yang baik dengan ayah, guru, orang dewasa, dan tentunya dengan teman sebayanya.
  4. Melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa ia mampu memahami dan peduli pada orang lain dan lingkungan sekitarnya.
  5. Menghargai, bertanggung jawab, dan disiplin dalam menjalankan aturan-aturan yang berlaku dan bertindak penuh tanggung jawab.

Bermacam kegiatan didesain untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan perlengkapan seadanya para siswa dan ayahnya harus berkerja sama (survive), mereka juga menghadapi aneka kompetisi antar kelompok melalui kegiatan fisik seperti travelling dalam rangka memecahkan aneka misteri yang telah disiapkan panitia.

Selain kegiatan bersama, disiapkan juga acara khusus untuk para ayah berupa seminar parenting. Pada acara ini, para ayah diajarkan bagaimana cara berbicara dari hati ke hati kepada anak-anak sehingga memberikan rasa percaya diri dan melatih kemampuan berkomunikasi mereka.

Kegiatan ini diakhiri dengan acara menulis surat untuk ayah. Seorang anak menulis untuk ayahnya, “Ayah, kau selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Betapa bangganya aku memiliki seorang ayah yang senantiasa hadir ketika aku membutuhkanmu. Kau adalah pahlawanku”. Suasana penutupan menjadi mengharu biru saat para ayah menitikkan air mata membaca surat dari anak-anak mereka..

 

Keterlibatan Orangtua

Selain kegiatan Bermalam Bersama Ayah, ada juga kegiatan Parenting Teacher yang merupakan contoh keterlibatan orangtua secara aktif dalam mewujudkan pembelajaran yang bermutu bagi anak-anak. Dalam kegiatan Parenting Teacher, orangtua masuk ke kelas, mengajar layaknya para guru. Menyampaikan berbagai informasi yang biasanya tentang profesi yang mereka geluti. Bagaimana tanggapan anak-anak? Tentu saja mereka sangat antusias. Selain mendapatkan tambahan pengetahuan, mereka langsung mendengarnya dari orang yang mereka sayangi.

Sebenarnya kegiatan-kegiatan di atas merupakan upaya sekolah untuk melibatkan orang tua (sebagai bagian dari masyarakat) dalam proses belajar mengajar siswa. Berbagi tanggung jawab? Barangkali bisa dikatakan begitu.

Jika selama ini kita beranggapan bahwa mewujudkan pembelajaran bermutu merupakan tanggung jawab sekolah, tanggung jawab guru, maka ada baiknya kita lihat lagi. Sebagaimana tujuan dari pembelajaran yang bermutu mengharapkan siswa mengalami perubahan tingkah laku, bertambah keahlian yang dapat digunakannya untuk masa depannya, dan bertambah kritis cara berpikirnya dalam memecahkan beragam masalah, maka ini semua menjadi sebuah keniscayaan jika sekolah dan guru, disokong penuh dengan keterlibatan orangtua.

Orang tua tidak bisa hanya menyerahkan tanggung jawabnya mendidik anak kepada sekolah dan guru. Orangtua, sekolah, dan juga guru, harus bekerja sama mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar anak akan berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan sosial anak. Jadi, dalam kata lain, keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak telah terbukti membantu sekolah dalam mencapai tujuan mereka untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu.

Pembelajaran bermutu yang didukung oleh masyarakat dalam hal ini orangtua, akan membuat anak mengalami pengalaman-pengalaman belajar yang sulit untuk dilupakan. Karena pembelajaran seperti inilah yang memberikan arti bagi proses belajar mereka.

Sekali lagi, tanggung jawab pendidikan bukan hanya di pundak guru dan sekolah, melainkan juga tanggung jawab orangtua dan dukungan masyarakat. Mari ambil peran dalam proses belajar anak-anak kita. Sebab pembelajaran yang bermutu menuntut keterlibatan masyarakat untuk mewujudkannya. Demi anak-anak kita, demi masa depan mereka, dan demi masa depan bangsa ini.